Tuesday, March 27, 2007

Kenapa Mesti Malu?

Oleh Seriyawati

Hari itu seperti biasanya saya mengantar dan menjemput Kiki, anak perempuan saya latihan Shorinji kempo. Dan ketika menjemputnya, saya melihat dia berbicara dengan temannya, seorang anak laki-laki yang sama-sama belajar kempo.


Oleh Seriyawati

Hari itu seperti biasanya saya mengantar dan menjemput Kiki, anak perempuan saya latihan Shorinji kempo. Dan ketika menjemputnya, saya melihat dia berbicara dengan temannya, seorang anak laki-laki yang sama-sama belajar kempo.

Saya tidak begitu menaruh perhatian pada mereka dan tetap menunggu anak saya selesai berbicara.
"Ada apa, Ki?" tanya saya setelah Kiki mendatangi saya.
"Teman Kiki bilang, 'Kenapa Mama memakai pakaian seperti itu di Jepang?
Apa ngga malu?" jawab Kiki.
"Terus Kiki, jawab apa?" tanya saya lagi.
"Mama nggak malu, kok. Mama pakai baju orang Indonesia.., " jawab Kiki.
"Ini pakaian orang Islam, Kiki, bukan pakaian orang Indonesia. Memang Mama ngga malu, kok. Nggak usah malu. Ya, jangan malu... " jelas saya.

Sambil mengayuh sepeda menuju pulang, saya bertanya lagi.
"Terus... Teman Kiki bilang apa lagi?" tanya saya tertarik.
"Dia cuma bilang, 'Oohhh'...."
"Hebat ya Kiki, bisa ngomong gitu sama temannya..., " puji saya.
"Lagipula kenapa harus malu, ya... " kata saya lagi.
"Oh ya, Kiki malu ngga dengan Mama?" tanya saya ingin tahu.
"Ngga... " sahutnya kalem.
Syukurlah. Saya menarik napas lega diam-diam.

***

Suatu hari saya mengajak anak-anak ke rumah teman.
Begitu memasukkan tiket, kereta listriknya datang dan segera pergi lagi meninggalkan kami yang tergopoh-gopoh menuruni tangga mengejarnya.
Tetapi akhirnya kereta listrik itu berangkat tanpa kami di dalamnya.
"Yaaahhh... Kita harus nunggu 10 menit lagi, " kata saya kecewa.
Anak-anak pun terlihat kecewa.

Sewaktu menunggu kereta bawah tanah datang, saya lihat anak-anak saya berbisik-bisik.
"Ada apa, sih?" Rasa keki membuat saya mengajukan pertanyaan.
"Itu ada teman Kiki. Miraretakunai...(ngga mau dilihat sama dia). "
"Kenapa? Kiki malu?" tanya saya seakan tahu apa yang dikhawatirkannya.
"Kalau ketemu nanti Kiki jadi harus ngomong begini begitu, " kata Kiki.
"Ngomong begini begitu, apa maksudnya, Ki?" tanya saya keheranan.
"Iya, Kiki kan jadi harus nerangin kenapa Kiki pake ini, " katanya sambil memegang jilbab warna biru mudanya.
"Tapi kan... Kalau dia teman Kiki yang baik, yah ngga apa-apa dong kalo lihat Kiki pakai jilbab?" tanyaku menyelidik.
"Hmmm..., " sahut Kiki pelan bernada ragu.
"Cuma malas aja kok ngejawab tanya-tanya, teman Kiki itu."

"Memangnya Kiki malu ya dilihat teman sekolah sedang pakai jilbab?"
tanya saya. Saya lihat Kiki diam sejenak dan menggeleng.
"Nggak, inilah Kiki yang sebenarnya. (Hontou no Kiki no shotai). Kenapa Kiki mesti malu!" jawabnya tiba-tiba.
"Begitu, dong!" kata saya membanggakannya.

***

"Bukan kita yang mesti malu dengan pakaian yang kita pakai. Lagipula kenapa kita mesti malu? Bukankah kita memakai pakaian yang memang disuruh Allah. Kalau kita pakai baju yang kelihatan pahanya, bahunya,
lehernya, nah orang yang pakai itu yang harusnya malu. Iya, ngga, Ki?"
tanya saya minta persetujuannya.
Tapi kenapa ada teman mama yang ngga pakai jilbab?" serbu Kiki.
Glek. Saya terdiam sejenak.
"Iya, mungkin mereka belum tahu, Ki. Mereka belum tahu bagaimana nyaman dan enaknya memakai ini. "
Tangan saya menunjuk pakaian panjangnya.
"Yang mama yakin, kalau mama memakai ini, perasaan mama tenang. Ngga ada perasaan bersalah, dan yang penting mama ngga mau dimarahi Allah. "
"Dimarahi Allah, Ma?" tanya Kiki bernada kaget.
"Iya. Kan, kalau ngga ikut kata Allah, nanti Allah marah, ngga sayang sama kita... "
"Mama pernah baca di buku, katanya orang yang ngga memakai jilbab akan dijauhkan dari surga, dan takkan mencium baunya surga. Wah, takkan mencium bau surga... Artinya jauh dari surga, malah ngga masuk surga dong ya... " jelas saya.
"He! Ngga mau ah... Kiki mau masuk surga, " kata Kiki antusias.

Jauh di dalam hati saya merenung. Masih banyak PR yang mesti saya siapkan yang harus saya ajarkan kepada anak-anak saya. Betapa Islam itu indah dan penuh keringanan-keringanan bagi penganutnya. Tidak ada keberatan-keberatan yang tak bisa dipikul hamba-hamba-NYA. Bukankah Allah takkan memberi cobaan di luar kesanggupan hamba-NYA?

Rasulullah salallahu 'alaihiwassalam bersabda, "Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih. Dan malu adalah salah satu cabang iman. "
Rasulullah juga bersabda, "Malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan. "

" Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Hal itu agar mereka lebih mudah dikenal dan karena itu mereka tidak diganggu" (al-Ahzab, 59).

Nagoya, Maret 2007

www.eramuslim.com

0 comments: