Thursday, March 22, 2007

Kado untuk Suamiku

Oleh Miftakhul Jannah

Hari ini adalah ultah ke-8 pernikahanku dengannya. Tak seperti ultah-ultah perkawinanku sebelumnya, di mana aku selalu menyempatkan untuk membungkus kado kejutan buatnya, buat kami; kali ini tidak.


Oleh Miftakhul Jannah

Hari ini adalah ultah ke-8 pernikahanku dengannya. Tak seperti ultah-ultah perkawinanku sebelumnya, di mana aku selalu menyempatkan untuk membungkus kado kejutan buatnya, buat kami; kali ini tidak.

Sebenarnya jauh di lubuk hati, ada terlintas juga siapa tahu kali ini Mas yang memberi kejutan untukku. Tetapi sampai malam ini ternyata tidak ada sesuatu istimewa yang Mas hadirkan. Dan aku tidak kecewa, karena aku sudah menyangka, tak akan ada apa-apa spesial yang menjadi kejutan bagi kami.

Sekarang aku sudah jauh memahami karakternya. Bukan orang yang romantis. Tak bisa mengungkapkan kata-kata manis secara langsung. Tak biasa memuji, tak biasa menggunakan kata-kata berbau basa-basi, semisal: tolong, maaf, … apalagi kata-kata: sayang… (tabu kali). Ya, begitulah suamiku.

Hal inilah yang dulu sering membuatku luka, karena belum mengertinya aku tentang dirinya. Seiring berjalannya waktu, aku mengerti, bahwa Mas bukan berarti tak sayang bila tak pernah menggunakan kata-kata yang biasa aku dengar dari kehidupanku sebelum dengannya.

Betapa sering dulu aku menangis di setiap malam; betapa selalu bantal basah oleh linangan air mata; saat merasa dicuekin. Terkadang hati ini kesal, bila Mas begitu mudah tertidur seusai kami melakukan sunnah….. Sepertinya aku ini hanya sebuah barang… Itu dulu.

Seorang pemuda yang sama sekali belum pernah aku lihat dan kenal sebelumnya. Dia adalah kakak dari teman kuliahku, seorang wanita sholihah, yang juga menjadi guru tahsin-ku. Setelah melalui malam-malam sujud istikhoroh, aku mantab menerimanya. Menikah tanpa pacaran. Prosesnya lumayan cepat: tukar biodata, bertukar fikiran & idealisme melalui surat, saling mengirim foto, bertemu satu kali langsung dikhitbah (dilamar); tiga bulan kemudian menikah.

Penyesuaianku dengannya memang sangat lama. Karena aku adalah tipe orang yang tak bisa terbuka. Sangat sensitif, mudah menangis, rapuh…. Sementara dia tipe orang yang sangat keras, disiplin dan tegar.

Bagaimanapun, ternyata Allah SWT Maha Penyayang kepada kami. Allah SWT menganugerahkan kesabaran kepadaku untuk memandang jernih masalah perbedaan karakter ini. Teringat sebuah pesan dalam sebuah buku yang pernah kubaca:

“Jika ada surga di dunia, surga itu adalah pernikahan yang bahagia. Namun jika ada neraka di dunia, itulah rumah tangga yang penuh pertengkaran dan kecurigaan-kecurigaan yang menakutkan antara suami dan isteri” (Muhammad Fauzil Adhim)

Dan aku ingin mendapatkan surga dunia itu…

Dari karakter Mas yang semula kufikir sangat bertolak belakang denganku, kutemukan kebaikan-kebaikan luar biasa yang begitu berarti dalam kehidupanku.

Dia sangat telaten mengajari kedua buah hati kami dalam banyak hal. Terutama dalam sholat, membaca Al-Qur’an, hafalan, juga pelajaran sekolah.

Suami juga selalu mengatakan “kamu pasti bisa, kalau berusaha!”, seperti saat ia mengoreksi hafalan surat-surat Al-Qur’an-ku, dan menyemangati ketika aku berkata tak sanggup menghafalnya; lalu ketika mengajariku mengemudikan kendaraan, semula aku ketakutan hingga akhirnya aku mampu melakukannya.

Ketika aku berhasil berkata “tidak” kepada seorang teman yang kusadari sering memanfaatkanku, aku meniru sikap tegas suamiku. Dan tiba-tiba kini aku merasa jauh lebih berani dibandingkan aku yang dulu.

Kalau toh tak ada kata-kata manis dari bibirnya, buktinya setiap aku sakit, tangan kokohnya dengan terampil memijat-mijat badanku hingga merasa nyaman.

Setiap aku menyadari ada suatu harapanku yang tak kuperoleh darinya, segera aku mencari kebaikan dirinya yang ternyata begitu banyak…
Keinginanku mendapatkan kata-kata manis berupa pujian dan rayuan, lambat laun sirna. Aku menerima dia apa adanya. Tentunya justru aneh, bila tiba-tiba gaya bicara dan kata-katanya berubah seperti harapanku yang dulu.

Ternyata benar jika pernikahan menjadikan kami saling melengkapi.
Hari demi hari, kerapuhanku mulai berkurang. Sebaliknya, sikap keras dan ketus suami juga sedikit demi sedikit berganti menjadi tegas namun lembut. Hal ini aku ketahui dari komentar saudara-saudara kami, ketika berkumpul dalam suasana Idul Fitri yang lalu. Saudara-saudaraku berkomentar tentang aku yang tak lagi cengeng; dan saudara-saudara suami berkomentar tentangnya, yang kini makin berwibawa. Alhamdulillah.

Mungkin tulisan ini kado terindah bagi ultah perkawinan kami.