Wednesday, May 2, 2007

Kendalikan Emosi Anda..

Oleh Ikhwan Sopa

Semuanya sudah siap. Kami sudah datang pagi-pagi untuk mensetting ruangan workshop hari itu. Saya sendiri, merasa fit dengan tidur yang cukup dan sudah sholat malam. Kata ulama, sholat malam bisa membuat kita berkomunikasi lebih baik pada siang hari berikutnya. Saya percaya, yakin, dan memang melakukannya. Walaupun jujur saja, nggak sering-sering amat.

Semuanya sudah siap. Kami sudah datang pagi-pagi untuk mensetting ruangan workshop hari itu. Saya sendiri, merasa fit dengan tidur yang cukup dan sudah sholat malam. Kata ulama, sholat malam bisa membuat kita berkomunikasi lebih baik pada siang hari berikutnya. Saya percaya, yakin, dan memang melakukannya. Walaupun jujur saja, nggak sering-sering amat.

Doa juga sudah Saya panjatkan. Sejak dari jalan tadi Saya sudah berdoa sampai beberapa kali. Doa yang biasa Saya panjatkan adalah doa "sukses presentasi" ala Nabi Musa As. Ya, semuanya sudah siap kecuali satu hal; proyektor LCD. Petugas hotel yang biasanya memasang barang satu itu belum nongol juga. Tapi Saya tenang-tenang saja. Biasanya memang begitu kok. Nanti beberapa menit sebelum acara dimulai, barulah dipasangnya.

Sampai waktunya workshop itu harus dimulai, benda yang satu itu tak muncul-muncul juga. Saya tidak melihat adanya "penampakan" di meja yang biasa jadi tongkrongannya. Kosong melompong. Saya mulai bertanya-tanya ada apa. Staf Saya mengatakan bahwa LCD proyektor sedang dalam perjalanan. Lha! Bukankah benda itu punya hotel sini? "Dipakai hotel lain yang segrup", kata salah satu petugas hotel.

EMOSI ANDA PUNYA ENERGI

Sepuluh menit belum juga. Sesuatu mulai menjalari Saya. Anda tahu rasanya? Bagi beberapa orang, kegagalan menyediakan perlengkapan yang memang sudah direncanakan pemakaiannya, bisa menjadi bencana. Malah, itu juga bisa identik dengan kegagalan presentasi itu sendiri. Bagi Saya juga sama, itu bisa berarti kegagalan workshop Saya.

Darah Saya sudah mulai berkumpul di ubun-ubun. Saya marah. Bukankah Saya sudah persiapkan sebelumnya? Bukankah staf Saya sudah membookingnya beberapa hari yang lalu?

Saya sedih. Apa jadinya workshop itu tanpa slide yang memang sering Saya presentasikan?

Saya kecewa. Dan bagaimanakah kecewanya para peserta? Apa yang Saya bayangkan pada saat itu, adalah marah, sedih, dan kecewanya mereka.

Kemudian Saya sadari sesuatu. Apa yang perlu Saya lakukan dalam situasi itu adalah bukan memperburuknya, melainkan memperingannya. Saya cukup heran bahwa dalam kondisi seperti itu, Saya masih bisa berpikir cukup jernih. Alhamdulillah. Lantas apa yang harus Saya lakukan?

Saya maju ke depan, mengucapkan salam, berbasa-basi sedikit, lalu memulainya. Saya tahu persis bahwa wajah Saya memerah karena campuran segala perasaan. Sedih, marah, kecewa, malu dan entah apalagi. "Bapak dan Ibu sekalian, Anda lihat di depan tidak ada LCD proyektor. Biasanya ia ada di sana, dan hari ini entah kemana. Apakah menurut Anda Saya marah? Ya Saya marah!" Saya mengatakan itu dengan setengah berteriak. "Mari kita mulai! Mari Saya tunjukkan bagaimana Saya marah!"

Setahu Saya, kita bisa melupakan penyebab kemarahan, akan tetapi kita cukup sulit untuk meredam energinya. Saya bertekad untuk melupakan kemarahan Saya, tapi Saya akan menggunakan energinya untuk workshop Saya.

Hari itu, energi Saya jauh lebih besar dari biasanya. Saya bahkan seperti lupa bahwa satu jam kemudian, benda yang Saya tunggu akhirnya datang juga. Tapi Saya, sudah terlanjur "ngamuk". Tahukah Anda bagaimana akhirnya?

Sampai di rumah Saya letih luar biasa. Tapi dari feedback staf Saya dan para peserta, Saya menemukan bahwa hari itu, adalah salah satu workshop terbaik Saya!

KENDALIKAN EMOSI ANDA

Emosi Anda adalah energi besar. Kekuatannya tak pernah bisa Anda bayangkan. Kejadian di Virginia Tech adalah emosi. Orang berantem di televisi adalah emosi. Bahagianya Tamara Blezinski ketemu Rasha adalah emosi. Emosi adalah energi yang bisa positif dan bisa negatif. Anda, tentu saja ingin emosi Anda selalu positif. Bagaimana me-manage-nya? Ada caranya.

Berikut ini adalah ringkasan dari buku "I Create Reality - Beyond Visualization: How You Can Use Holographic Creation to Manifest Your Desires!" karangan Christopher Westra yang dikenal dengan HoloCreation Techniques-nya.

1. Bertanggungjawablah atas Emosi Anda

Mungkin, saat ini Anda belum terlalu mempercayainya. Namun demikian tetaplah katakan ini pada diri Anda, saat Anda marah, sedih, kecewa, putus asa, atau bahkan berbahagia:

"Sayalah yang menciptakan realitas Saya, dan sekarang Saya sedang menciptakan emosi ini."

Biasanya, Anda tidak pernah melakukan langkah pertama ini. Mengapa? Karena Anda lebih percaya bahwa keadaan atau situasi di luar Andalah yang menyebabkan emosi Anda.

2. Beri Nama untuk Emosi Anda

Memberi nama pada emosi akan memperjelas pemahaman Anda tentang emosi itu. Ini juga akan meningkatkan kesadaran Anda tentang emosi itu. Tidak cukup, jika Anda menyebut emosi itu hanya dengan "sedih", "marah", "jelek", "bagus" dan sebagainya.

"Aku lagi biru"
"Gue emang lagi ngehek"
"Saya sedang hitam"
"Aku lagi kena emosi nomor dua belas"
"Saya sedang mengalami kram otak"
"Aku kayaknya lagi kena racun cinta"

Semakin spesifik Anda menamainya, semakin jelas, lengkap, dan spesifik inventory emosi Anda. Hafalkan untuk identifikasi di masa depan.

3. Biarkan Berlalu Penyebabnya

Lupakan, apapun yang di luar diri Anda yang Anda anggap menjadi penyebab emosi Anda, tapi pertahankanlah emosinya. Ingat, Anda tetap harus mengontrolnya. Apa yang Anda lakukan, adalah memisahkan "penyebab emosi" dari emosi itu sendiri. Kini, emosi Anda menjadi lebih obyektif sifatnya. Benda obyektif yang sudah punya nama.

4. Hargai Emosi Anda

Hargai emosi Anda. Sebab dengan itu, Anda ternyata masih manusia. Menghargai emosi tidak berarti menghakiminya dengan "baik" atau "buruk". Hargai keberadaannya sebagai pelengkap kemanusiaan. Hargai keberadaannya dan bukan sifat atau pengaruhnya. Ini adalah langkah penting dalam rangka menuju ke poin berikut ini.

5. Rasakan Emosi Anda

Kini, Anda rasakan lagi emosi Anda dengan cara yang berbeda. Tanpa penghakiman dan sikap bertahan, rasakan saja. Bila perlu, rasakan di mana letaknya. Di kepala Anda, di dada Anda, di telinga Anda, di wajah Anda, di mana saja di bagian tubuh Anda. Anda kini mengobservasi emosi Anda dengan obyektif. Ingat, tanpa penghakiman dan sikap bertahan.

6. Dapatkan Penjelasan

Anda telah dilingkupi oleh semangat untuk belajar dan tumbuh. Mulailah mencari alasan yang menciptakan emosi Anda. Waspadai yang satu ini: Jangan kembali ke "penyebab eksternal" sebab Anda sedang ber-internalisasi. Penyebab emosi Anda adalah Anda sendiri, bukan sesuatu yang di luar Anda. Bertanyalah,

"Apa yang perlu Saya pelajari dari emosi ini?"
"Keyakinan melenceng apa di dalam diri Saya, yang menciptakan emosi ini?"

7. Identifikasi

Berilah waktu untuk jawabannya. Your answer will come. Di dasar setiap emosi negatif, selalu ada keyakinan yang tidak tepat.

Apakah Anda merasa "harus" membuat semua orang senang?
Apakah Anda merasa tidak akan bisa disukai jika "tidak sempurna"?
Apakah Anda merasa bahwa semua orang "harus" mengikuti Anda?
Apakah Anda merasa diri Anda "tidak bernilai"?

8. Tukar Keyakinan Anda

Pilihlah keyakinan yang lebih baik untuk menggantikan keyakinan negatif Anda. Katakan dengan eksplisit,

"Sekarang Saya memilih untuk menolak keyakinan ini, dan menggantinya dengan keyakinan ini."

Pada empat langkah terakhir, Anda akan merasakan sesuatu yang luar biasa. Emosi negatif Anda pergi, dan sepenuhnya digantikan dengan sesuatu yang lain. Mengapa ini bisa terjadi? Kuncinya, ada pada kejelasan dan naiknya kesadaran.

Pernah mendengar "illusion of control"? Dengan mengikuti amarah, Anda merasa mengendalikan sesuatu, padahal Andalah yang sebenarnya berada di bawah kendali emosi. Upaya Anda untuk mengendalikan emosi, tanpa Anda sadari adalah sebentuk penolakan. Dan jika Anda melakukannya dengan memaksa diri, maka Anda bisa menderita selama beberapa jam lamanya. Ketahuilah, itu menggerogoti Anda.

Dengan langkah yang tepat dalam membiarkan diri merasakan emosi, Anda akan bisa merasakan emosi sesuai kegunaannya. Untuk belajar, untuk tumbuh, untuk dewasa, untuk tidak menjadi destruktif, untuk menjadi lebih berbahagia.

Lakukanlah sesegera mungkin, dan dapatkan manfaat ajaibnya dalam dua minggu ke depan.

By : ikhwan.sopa@gmail.com


1 comments:

Anonymous said...

Kang Ikhwan, he...he.. nama kita sama ya?

Makasih banyak ya atas apresiasinya? Semoga bermanfaat buat kita semua.

Kapan-kapan kita ketemuan nih.

Sukses buat Anda,

Ikhwan Sopa
Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com